Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Aiptu Jailani, Contoh Polisi Teladan

Diposting oleh Sepeda Onthel on Jumat, 05 April 2013

Mendapat jatah uang saku Rp 200 ribu per bulan dari sang istri, Aiptu Jailani, anggota Satlantas Polres Gresik, masih tak tergoda menambah uang sakunya dari hasil 86 alias uang damai. Bagi Polantas 44 tahun itu, aturan tetap harus ditegakkan, agar esok akan lebih baik dari hari ini.

"Semua gaji saya tiap bulan, saya serahkan semuanya ke istri saya. Tiap bulan saya hanya dijatah Rp 200 ribu untuk uang saku sama istri saya," aku Jailani tanpa menyebut nominal gaji yang dia terima tiap bulan kepada merdeka.com, Minggu (31/3) lalu.

Dengan jatah uang saku yang cukup kecil itu, tak melunturkan keimanan Jailani. Dia tidak tergelitik untuk menerima uang damai dari pengendara yang dia tilang karena melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Buktinya, pada tahun 2011 silam, dia pernah menerima ucapan selamat dari Dirlantas Polda Jawa Timur karena kredit poin tertinggi buku tilang, dengan 2400 surat tilang yang dia tandatangani selama satu tahun. Jumlah surat tilang tersebut, semuanya diambil melalui proses sidang di pengadilan. "Saya hanya menjalankan tugas," kata Polantas kelahiran 10 Agustus 1969 silam di Jombang, Jawa Timur tersebut.

Sejumlah pengendara yang pernah mendapat hadiah tilang dari Jailani, cukup beragam. Mulai dari perwira polisi, TNI, pejabat, wartawan, seorang anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan istrinya sendiri tak luput dari surat tilangnya. Tak sedikit dari mereka yang menggoda Jailani dengan sejumlah uang damai, termasuk saat menilang anggota KPK.

"Kalau uang saku saya kurang atau habis, saya minta lagi ke istri saya. Kadang dikasih lagi Rp 100 ribu, kadang Rp 200 ribu, ya nggak mesti. Tergantung kebutuhan bulan itu, kalau kebutuhan rumah tangga agak banyak, istri saya memberi Rp 100 ribu saja. Tapi yang pasti, setiap bulan saya mendapat jatah Rp 200 ribu itu," terang bapak dua anak itu.

Jika dia tidak tergoda dengan uang hasil 86 dari surat tilang yang dia sematkan bagi para pelanggar lalu lintas, lantas bagaimana saat dia bertugas sebagai penguji praktik uji SIM C di kantor Satlantas Jalan Randu Agung, Gresik pada pagi hingga siang hari?

Banyaknya pemohon SIM untuk roda dua itu, yang gugur saat menjalani praktik uji SIM C, dan keluhan dari mereka yang gagal memperoleh SIM, setelah mengikuti tes, menunjukkan kedisiplinan Jailani tentang tugas dan tanggung jawab serta anti suap.

"Saya sudah dua kali ikut test, tapi masih gagal," kata Nurul usai mengikuti test.

Sementara Jailani sendiri mengaku, apa yang dilakukannya itu, bagian dari tanggung jawab dia untuk menegakkan aturan. "Berjalanlah sesuai dengan aturan, maka tidak ada pelanggaran. Apakah dengan surat tilang menjadi efek jera bagi pelanggar? Tidak, apalagi membiasakan diri mereka dengan tilang di tempat. Pelanggaran akan terus terjadi di mana-mana," tegas pria yang telah 23 tahun mengabdikan diri untuk korps baju coklat tersebut.

Pun begitu dengan permohonan SIM baru, kata Jailani, kalau pengemudi bisa dengan mudah mendapatkan SIM, meski tidak begitu lihai berkendara dan tidak mengerti rambu-rambu lalu lintas, tentu akan banyak pelanggaran akan terjadi di jalan raya. "Kedisiplinan dan memahami aturan bagian dari tanggung jawab kita semua. Jika tidak, masyarakat menjadi liar dan tanpa aturan," tandas Jailani.
More aboutAiptu Jailani, Contoh Polisi Teladan

Siapakah Idjon Jambi?

Diposting oleh Sepeda Onthel on Sabtu, 30 Maret 2013

Nama Idjon Jambi akhir-akhir ini menjadi terkenal. Idjon Jambi menjadi top news di media-media nasional maupun jejaring sosial. Siapakah Idjon Jambi?

Yang membuat terkenal Idjon Jambi sehingga menjadi headline sejumlah media adalah tulisan di facebook yang berjudul: PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN (Klik untuk membaca tulisannya yang fenomenal)

Tulisan itu dibuat oleh pengguna facebook dengan ID Idjon Jambi. Saya sendiri tak tahu siapa Idjon Jambi. Iseng searching di google, ternyata Idjon Jambi ini adalah salah satu tokoh Kopassus (dulu bernama RPKAD).

Berdasarkan Wikipedia, Idjon Jambi bernama lengkap Mochammad Idjon Djanbi (lahir di Kanada sekitar tahun 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser) adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama.

Pada beberapa literatur, nama Idjon Jambi tertulis Idjon Janbi. Entah mana yang benar.

Kopassus dibentuk oleh Kolonel AE Kawilarang yang waktu menjabat sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI /TII, namanya Mayor Mohammad Idjon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser). Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnya pun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan belanda “red barets”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne /lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan khususnya yang menggunakan baret warna merah.

Ada tiga figur yang sangat berperan di balik pembentukan pasukan komando: Slamet Rijadi, Alex Kawilarang, dan Moch Ijon Djanbi (Rokus Bernadus Visser). Dari tiga nama tersebut, adalah Ijon Janbi yang paling banyak meninggalkan jejak, salah satunya adalah soal pilihan warna baret (merah), hingga satuan Kopassus memperoleh julukan tipikal sesuai warna baretnya: Korps Baret Merah. Wacana soal pilihan warna baret ini menarik, karena berkaitan dengan tradisi satuan yang mengenakannya. Pada biografi Slamet Rijadi yang kita bicarakan ini, disebutkan, sebenarnya Slamet Rijadi lebih terkesan pada baret warna hijau (halaman 208 dan 221).

Bila warna merah yang dipilih, tentu ini tak lepas dari sentuhan Mayor Ijon Djanbi, selaku Komandan pertama satuan tersebut, yang awalnya bernama Kesko (Kesatuan Komando) TT III/Siliwangi. Bisa jadi ada unsur subjektivitas dari Ijon Janbi sebagai mantan anggota pasukan khusus KNIL (Korps Speciale Troepen, KST). Mengapa warna merah yang akhirnya dipilih, bukan warna hijau, yang merupakan warna baret KST tempat Djanbi sendiri pernah bergabung? Padahal gagasan Slamet Rijadi tentang perlunya pembentukan pasukan berkualifikasi komando, awalnya berdasarkan kekagumannya atas kemampuan tempur KST tersebut, yang notabene berbaret hijau (halaman 261).

Pilihan baret merah bisa dibaca sebagai bentuk apresiasi khusus Djanbi terhadap pasukan khusus Inggris. Saat mendaftar sebagai anggota pasukan komando dulu, Djanbi berlatih di pusat pelatihan pasukan khusus Inggris di kawasan Acknacary (Skotlandia), di bawah gemblengan instruktur-instruktur Inggris pula. Perlu diingat, meski pernah bergabung dalam pasukan khusus Belanda, Djanbi sempat memiliki pengalaman pribadi yang pahit dengan satuan tersebut. Itu sebabnya Djanbi lebih memilih warna merah bagi satuan komando yang dirintisnya. Sampai kini baret merah juga masih dipakai pasukan elite Inggris (The Parachute Regiment).

Mungkin pemilihan ID Idjon Jambi oleh sang penulis note PELAKU PENYERANGAN LP SLEMAN ADALAH APARAT KEPOLISIAN terinspirasi dari Idjon Jambi sang Komandan Kopassus pertama. So, ga berlebihan apabila sebagian orang menganggap tulisan tersebut adalah versi underground dari TNI (lebih khususnya Kopassus) terkait penyerangan LP Cebongan.



Bagaimana Menurut anda?

More aboutSiapakah Idjon Jambi?